Kemarin, saat jadwal pembinaan di Blok Wanita Lapas, saya mendapat sebuah kabar yang membuat langkah saya sejenak terhenti.

Seorang mantan warga binaan yang pernah saya dampingi telah meninggal dunia.

Usianya belum genap 30 tahun.

Masih sangat muda.

Saya mengenalnya ketika ia masih menjadi warga binaan. Ia pernah terjerat kasus narkoba dan menjalani masa pembinaan. Beberapa bulan yang lalu, ia akhirnya bebas. Saya membayangkan, setelah keluar dari Lapas, masih panjang jalan kehidupan yang akan dilaluinya.

Masih banyak yang bisa diperbaiki.

Masih banyak harapan yang bisa diwujudkan.

Masih banyak waktu untuk memulai kehidupan yang baru.

Tetapi ternyata, saya keliru.

Waktu yang kita kira masih panjang, ternyata bisa begitu singkat.

Ia meninggal karena penyakit jantung bawaan.

Saya terdiam.

Kematian memang tidak pernah bertanya berapa usia kita.

Beberapa minggu sebelumnya, saya juga mendapat kabar tentang seorang warga binaan yang baru saja divonis dua tahun karena kasus tindak pidana korupsi. Usianya sekitar 40-an tahun.

Belum lama menjalani masa hukumannya, ia meninggal dunia.

Dan lagi-lagi saya terkejut.

Belum selesai rasa kaget itu, datang pula berita-berita kematian lainnya.

Ada yang meninggal setelah lama sakit.

Tetapi ada juga yang pergi begitu cepat, tanpa sebelumnya terdengar kabar sedang sakit.

Mendengar semua itu, saya tidak hanya sedih.

Saya juga merasa takut.

Khawatir.

Dan entah mengapa, akhir-akhir ini kematian terasa begitu dekat.

Bukan karena saya ingin berpikir buruk.

Tetapi karena semakin sering mendengar kabar orang yang pergi secara tiba-tiba, saya semakin sadar bahwa kematian memang tidak mengenal usia dan tidak menunggu kita siap.

Kita sering berkata,

“Nanti saja saya bertaubat.”

“Nanti kalau sudah tua saya lebih rajin beribadah.”

“Nanti kalau urusan ini sudah selesai, saya akan lebih dekat kepada Allah.”

“Nanti kalau sudah punya waktu…”

Padahal kita tidak pernah benar-benar tahu apakah kata “nanti” itu masih menjadi milik kita.

Allah berfirman:

“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati.”(QS. Ali 'Imran: 185)

Ayat ini bukan sesuatu yang baru saya dengar.

Saya sudah sering menyampaikannya kepada orang lain.

Tetapi akhir-akhir ini, ayat itu terasa berbeda ketika saya membacanya.

Lebih dalam.

Lebih dekat.

Lebih menggetarkan hati.

Karena saya sadar, selama ini saya sering berbicara tentang kematian kepada orang lain, tetapi mungkin saya sendiri belum benar-benar mempersiapkan kepulangan.

Saya masih punya dosa yang belum saya mintakan ampun.

Masih ada kata-kata yang mungkin pernah melukai hati orang lain.

Masih ada orang yang mungkin belum saya maafkan sepenuhnya.

Masih ada urusan dunia yang belum selesai.

Masih ada amal yang terasa sangat sedikit dibandingkan dengan nikmat Allah yang begitu banyak.

Dan ketika kematian datang, semua itu tidak bisa ditunda.

Saya tidak tahu kapan giliran saya.

Saya juga tidak tahu di mana dan dalam keadaan bagaimana Allah akan memanggil saya.

Yang saya tahu, kematian bukan milik orang tua saja.

Yang muda bisa pergi.

Yang sehat bisa pergi.

Yang baru saja bebas bisa pergi.

Yang baru saja dijatuhi vonis bisa pergi.

Yang kemarin masih berbicara dengan kita, hari ini bisa saja sudah berada di alam yang berbeda.

Mungkin inilah salah satu hikmah mengapa kita dianjurkan untuk selalu mengingat kematian.

Bukan agar kita hidup dalam ketakutan.

Tetapi agar kita tidak hidup dalam kelalaian.

Mengingat kematian seharusnya membuat kita lebih lembut kepada sesama.

Lebih cepat meminta maaf.

Lebih mudah memaafkan.

Lebih berhati-hati menjaga lisan.

Lebih bersungguh-sungguh melunasi utang.

Lebih rajin bersedekah.

Lebih menjaga salat.

Lebih sering membaca Al-Qur'an.

Dan lebih sering berkata,

“Ya Allah, jika Engkau masih memberiku waktu, izinkan aku memperbaiki diri.”

Kemarin saya datang ke Lapas untuk membina mereka.

Tetapi pulangnya, justru saya merasa seperti sedang dibina oleh sebuah kenyataan.

Bahwa hidup ini sementara.

Bahwa kesempatan itu terbatas.

Bahwa usia bukan jaminan.

Dan bahwa setiap hari yang kita lalui sesungguhnya adalah satu langkah menuju kepulangan.

Saya tidak tahu kapan giliran saya.

Mungkin masih lama.

Mungkin juga tidak.

Dan justru karena saya tidak tahu, saya ingin belajar untuk tidak terlalu percaya diri bahwa saya masih memiliki banyak waktu.

Saya ingin memperbaiki apa yang masih bisa diperbaiki.

Meminta maaf kepada mereka yang pernah saya sakiti.

Memaafkan mereka yang pernah menyakiti saya.

Menyelesaikan apa yang menjadi tanggung jawab saya.

Memperbanyak amal yang mungkin selama ini masih kurang.

Dan yang paling penting, belajar pulang kepada Allah sebelum benar-benar dipanggil pulang.

Karena kita semua sedang menunggu giliran.

Bukan giliran untuk pergi dari Lapas.

Tetapi giliran untuk pergi dari dunia.

Dan ketika giliran itu tiba, tidak ada satu pun dari kita yang bisa berkata,

“Tunggu sebentar, saya belum siap.”

Maka hari ini, selama Allah masih memberikan napas, mungkin itu adalah kesempatan.

Kesempatan untuk berubah.

Kesempatan untuk bertaubat.

Kesempatan untuk mencintai lebih baik.

Kesempatan untuk memperbaiki hubungan dengan Allah dan manusia.

Dan kesempatan untuk mempersiapkan satu kepulangan yang pasti.

Semoga ketika giliran itu tiba, kita bukan hanya pergi dalam keadaan siap, tetapi pulang dalam keadaan Allah ridha kepada kita.

اللهم إنا نسألك حسن الخاتمة

Ya Allah, kami memohon kepada-Mu husnul khatimah.