Hari ini saya kembali duduk bersama warga binaan di lembaga pemasyarakatan.
Seperti biasa, saya datang bukan untuk menghakimi. Saya datang untuk berbagi, mendengarkan, dan mencoba memahami bahwa di balik setiap nama yang tercatat sebagai warga binaan, ada seorang manusia dengan perjalanan hidupnya sendiri.
Hari ini ada dua warga binaan baru yang saya temui.
Keduanya sama-sama tersandung kasus pencurian. Namun, cerita yang membawa mereka sampai ke tempat ini begitu berbeda.
Yang satu berusia 36 tahun. Ia mencuri brondolan sawit sebanyak 120 kilogram.
Saya tidak tahu persis apa yang ada dalam pikirannya ketika mengambil keputusan itu. Mungkin ada kebutuhan yang mendesak. Mungkin ada persoalan ekonomi yang tidak mampu ia selesaikan. Mungkin ada banyak hal yang tidak pernah kita ketahui.
Yang saya tahu, hari ini ia harus menjalani konsekuensi dari pilihan yang telah diambilnya.
Yang satu lagi masih sangat muda. Usianya baru 24 tahun.
Kasusnya berbeda.
Ia mengambil emas milik almarhumah ibunya sendiri. Emas yang mungkin memiliki nilai bukan hanya secara materi, tetapi juga menyimpan kenangan tentang seorang ibu yang telah tiada.
Dan untuk apa?
Untuk melunasi utang pinjaman online pacarnya.
Saya terdiam.
Ada apa dengan dunia ini?
Ada apa dengan kehidupan yang sedang kita jalani?
Bagaimana mungkin seorang anak sampai tega mengambil sesuatu yang menjadi milik ibunya sendiri yang telah meninggal?
Bagaimana mungkin seseorang rela mengorbankan masa depannya demi melunasi utang yang bukan miliknya?
Dan bagaimana mungkin pinjaman yang awalnya mungkin dianggap sebagai jalan keluar, justru membawa seseorang semakin jauh ke dalam persoalan?
Hari ini saya kembali diingatkan bahwa setiap kejahatan mungkin memiliki cerita di belakangnya, tetapi setiap cerita tidak pernah bisa menjadi pembenaran untuk sebuah kesalahan.
Ada orang yang mencuri karena ingin memenuhi kebutuhan hidup.
Ada yang mencuri karena terdesak utang.
Ada yang terjerumus karena pergaulan.
Ada yang mengambil keputusan karena cinta yang salah arah.
Ada pula yang mungkin hanya ingin mendapatkan sesuatu dengan cara yang cepat dan mudah.
Tetapi pada akhirnya, semua pilihan memiliki konsekuensi.
Saya tidak sedang membenarkan pencurian.
Tidak.
Salah tetaplah salah.
Tetapi sebagai seorang penyuluh, saya belajar bahwa tugas kita bukan hanya melihat kesalahan seseorang. Kita juga perlu melihat mengapa seseorang bisa sampai berada di titik itu.
Sebab mencegah seseorang melakukan kesalahan jauh lebih baik daripada hanya menunggu mereka melakukan kesalahan, kemudian menghukumnya.
Hari ini saya pulang dari lapas dengan banyak pertanyaan di kepala.
Tentang keluarga.
Tentang pendidikan.
Tentang pergaulan.
Tentang cinta.
Tentang utang.
Tentang pinjaman online.
Tentang bagaimana seseorang bisa kehilangan arah hanya karena ingin menyelesaikan satu masalah, tetapi akhirnya menciptakan masalah yang jauh lebih besar.
Mungkin, inilah salah satu alasan mengapa pembinaan harus terus dilakukan.
Sebab orang yang sedang berada di dalam lapas pun masih memiliki kesempatan untuk berubah.
Masih ada kehidupan setelah mereka keluar.
Masih ada keluarga yang menunggu.
Masih ada masa depan yang bisa diperbaiki.
Dan masih ada jalan pulang.
Saya tidak tahu bagaimana akhir perjalanan kedua warga binaan yang saya temui hari ini.
Tetapi saya berharap, suatu hari nanti, ketika mereka kembali ke tengah masyarakat, mereka tidak mengulangi kesalahan yang sama.
Semoga mereka pulang dengan membawa pelajaran.
Semoga keluarga mereka masih membuka pintu.
Semoga masyarakat mau memberi kesempatan.
Dan semoga kita semua belajar dari kisah mereka.
Sebab terkadang, jarak antara kehidupan yang baik dan kehidupan yang penuh penyesalan hanya dipisahkan oleh satu keputusan yang kita ambil pada hari ini.
Dan mungkin, yang perlu kita tanyakan kepada diri sendiri bukan hanya:
"Mengapa mereka melakukan itu?"
Tetapi juga:
"Apa yang bisa kita lakukan agar semakin sedikit orang yang harus sampai pada titik itu?"

🥹🥹🥹